Archive for November, 2013

Relakan aku.

Mungkin yang terbaik, memang tak bisa teraih.

Mungkin yang terburuk, yang harus terjadi.

Saat persimpangan, berbeda tujuan.

Jalan hidup kita tak mesti sama.

Dan lalu kau berkata, โ€œRelakan, relakan saja aku pergi, untuk membenahi kebimbanganku bersama dia.โ€

Sungguh berat aku untuk melepasmu, melihat kamu mencari jati dirimu bersama dia.

Namun kita memang telah jatuh tenggelam.

Jatuh ke dalam tuduhan yang lama terpendam, dan berkepanjangan.

Aku selalu berfikir, saat kita jatuh ke dalam kesalahan, saat itulah semestinya kita bisa saling menopang.

Namun aku pun juga berfikir, tak akan berujung baik bila aku memaksa keinginanku.

Karena bila itu terjadi, suatu saat kamu akan melakukan hal yang sama lagi.

Dan lalu ku akan berkata, โ€œAku pun juga akan pergi. Aku pergi untuk merajut kembali semua yang terkoyak.โ€

Bila suatu masa nanti kita bisa bersanding lagi, hanya satu pintaku kepadamu.

Tolong, jangan pernah lepaskan aku lagi.

Titik. (Part 2)

Ajari aku agar bisa membenci kamu.

Ajari aku agar bisa melupakan kamu, sebagaimana kamu bisa dengan mudah melupakan aku.

Setelah semua yang telah kita lalui bersama.

Setelah semua yang telah aku lakukan untukmu.

Kamu bilang maunya kamu cuma aku.

Kamu bilang kamu masih sayang sama aku.

Kamu bilang sebuah kesalahan pernah jalan bareng dia.

Kamu bilang itu gak akan terjadi lagi.

Kamu menangis di pelukan aku ketika bilang itu.

Tapi kamu melakukannya lagi, dan lagi, dan lagi.

Dan selalu dengan alasan yang sama.

Kamu gak tau kenapa kamu melakukan itu.

Maaf, sekarang sudah saatnya aku berhenti.

Aku sudah tidak sanggup lagi menerima sakit ini terus menerus.

Aku berhenti mengejar, dan mencoba memilih jalan lain.

Jauh di lubuk hati aku, aku sedikit berharap suatu saat kamu akan sadar.

Kamu akan sadar kalau hanya aku yang bisa buat kamu bahagia.

Dan lalu akhirnya kamu akan mengejar aku sekuat tenaga kamu.

Tapi aku tahu itu mustahil.

Biarkan harapan itu mati dengan sendirinya.

Aku selalu berharap kamu bisa bahagia dengan dia.

Selamanya.

*backsound: Kerispatih – Cinta Putih*

Titik.

THE END.

SELESAI.

TAMAT.

SEKIAN.

FIN.

 

 

 

Goodbye.. ๐Ÿ™‚

Maukah kamu?

I miss you.

I miss you so bad.

Aku menyesal, benar-benar menyesal, ngga berusah mendekatkan diri sama keluarga kamu ketika ada kesempatan.

Aku menyesal, benar-benar menyesal, ngga berusaha mencari kerja lebih awal seperti yang kamu bilang.

Seandainya saja waktu bisa diputar.

Sayangnya waktu tidak akan pernah mungkin bisa diputar.

Sayang, bila memang Tuhan menggariskan jodoh di jalan kita, aku berjanji akan selalu perjuangin kamu.

Aku akan buat mama papa kamu yakin kalau akulah yang terbaik buat kamu.

Aku akan buat keluarga kamu percaya, kalau aku bisa menjaga kamu, dan ngga akan buat kamu terluka.

Tapi sampai saat itu tiba, maukah kamu menanti dan terus menemani aku?

Takut akan waktu.

Sekarang ini adalah waktu-waktu kritis.

Waktu yang lo minta dari gw.

Waktu untuk lo berfikir apakah gw worth it untuk diperjuangkan.

Waktu yang dengan berat hati gw kasih ke lo.

Terkadang gw ngerasa, kalo lo emang benerย  mau, bener sayang, bener butuh gw, seperti yang lo bilang.., kenapa harus butuh waktu untuk memastikan itu?

Tapi kemudian gw juga berfikir, gw harus bisa relain ngasih waktu itu buat lo, biar lo ga terus-terusan tertekan karena gw.

Terkadang gw takut, gimana kalo seandainya di waktu-waktu kritis ini, ada ‘dia’ yang akhirnya berhasil menyentuh hati lo? Gw pasti akan benar-benar kehilangan lo, karena gw ga bisa ngasih apa yang dia bisa kasih.

Gw cuma bisa kasih cinta dan kasih sayang, sementara dia bisa kasih dunia yang penuh warna seperti yang lo mau itu.

Gw takut itu yang akan terjadi saat ini, ketika lo meminta waktu buat berjalan tanpa gw.

Semoga itu cuma ketakutan gw aja..

Semoga..

Sampe kapan? Kenapa?

Sampe kapan gw bisa bertahan?

Sampe kapan gw bisa terus bertahan?

Begitu bertubi-tubinya lo ngancurin hati gw, dalam jangka waktu yang gak lama.

Ditinggal gitu aja, dicintai cuma setengah hati, diboongin, dikhianatin, lalu dijadiin sebuah pilihan.

Sampe kapan?

Dan kenapa gw masih segitunya sama lo?

Kenapa?

Gw mau banget bisa benci sama lo, setelah semuanya itu.

Gw mau banget bisa marah, teriak di depan muka lo, lalu pergi gitu aja tanpa harus nengok ke belakang lagi.

Tapi kenapa gw ga bisa?

Kenapa lo bisa, dan gw ngga?

Terkadang gw berharap hati gw gak sekuat ini.

Gw berharap hati gw hancur sepenuhnya ketika lo pertama kali nyakitinnya.

Tapi ternyata ngga.

Sakit, sakit banget.., tapi ngga hancur seperti yang gw mau.

Kenapa masih ada nama lo di sana?

Kenapa masih ada wajah lo di bayangan gw?

Kenapa?

Just some convo..

Me: “Aku kayaknya ngejauhin PIM dulu deh..”

Her: “Tapi kan kamu tau, itu mall favorit aku..”

Me: “………………………”

*Me too.. Itu juga mall kesukaan gw. Cuma aja gw akan selalu ngebayangin elo yang udah pernah pergi kesana sama laki-laki lain, ketika gw disini berjuang untuk kita..* :’)